Sabtu, 16 Oktober 2010

Letak Kekuatan

Ada kekuatan di dalam cinta, dan orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat, karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk mementingkan diri sendiri.

Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan, dan orang yang tertawa gembira adalah orang yang kuat karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan.

Ada kekuatan di dalam kedamaian diri, dan orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat karena ia tidak pernah tergoyahkan dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada kekuatan di dalam kemurahan, dan orang yang murah hati adalah orang yang kuat karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.

Ada kekuatan di dalam kebaikan, dan orang yang baik adalah orang yang kuat karena ia selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang.

Ada kekuatan di dalam kesetiaan, dan orang yang setia adalah orang yang kuat karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi dengan kesetiaannya kepada Tuhan dan sesama.

Ada kekuatan di dalam kelemah-lembutan, dan orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat, karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.

Ada kekuatan di dalam penguasaan diri, dan orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.

Di situlah letak dimana semua Kekuatan Sejati berada...

Sadarilah Anda juga memiliki cukup kekuatan untuk mengatasi segala masalah Anda. Dimanapun juga, seberat dan serumit apapun juga.

Kamis, 14 Oktober 2010

Doa Bapa Kami (Batak Version)

Ale Amanami nadi banua ginjang.
Sai pinarbadia ma goarMu.
Sai ro ma harajaonMu.
Sai saut ma lomo ni rohaM
Di banua tonga on songon nadi banua ginjang.
Lehon ma tu hami sadari on hangoluan siapari.
Sesa ma dosanami, songon panesanami di dosa ni dongan namardosa tu hami.
Unang hami togihon tu pangunjunan.
Palua ma hami sian pangago.
[Ai Ho do nampuna harajaon dohot hagogoon rodi hasangapon saleleng ni lelengna.
Amen.]

Rabu, 13 Oktober 2010

Cinta Tak Bersyarat Menyehatkan

Setiap orang pasti ingin dicintai oleh orang lain. Tidak ada satu manusia pun yang menginginkan dirinya diperlakukan kasar oleh orang lain. Cinta adalah kebutuhan seperti makanan, pakaian, dan rumah yang harus dipenuhi di dalam diri seseorang. Bila tidak, maka orang tersebut akan menjadi “monster” dan membawa pengaruh buruk bagi lingkungan sekitar.

Namun, dalam kenyataan, kita sering menemukan banyak orang yang sudah mendapatkan cinta dari orang lain, tetapi justru hidupnya merasa tertekan atau tidak bahagia? Apakah cinta dapat membuat efek negatif bagi diri manusia? Jawabannya karena cinta yang mereka dapatkan seringkali bersyarat.

Seorang ayah atau ibu akan sangat menyayangi anak-anaknya jika anak-anaknya tersebut menjadi siswa berprestasi di sekolah atau memiliki keahlian dalam bidang tertentu. Hadiah demi hadiah akan mereka berikan bila buah hatinya membawa pulang piala atau mendapatkan medali dari suatu ajang kompetisi tertentu. Apabila anak-anak mereka kalah atau rangkingnya jeblok di sekolah, maka omelan dan kata-kata kasar akan dikeluarkan oleh orang tua.

Tidak jauh berbeda pemandangan tersebut dengan hubungan sepasang suami-istri. Seorang suami akan sangat menyayangi istri jika istrinya terampil dan telaten mengurus dirinya dan juga rumah mereka. Begitu pun juga istri, ia akan sangat mencintai sang suami apabila suaminya mendapatkan banyak uang atau memiliki karir yang bagus sehingga membuat keluarga mereka menjadi terpandang di lingkungan sekitar.

Ada begitu banyak contoh cinta bersyarat yang bisa kita lihat di dunia ini dan sangat berpotensi merusak kehidupan seseorang. Seorang psikolog terkenal, Erich Fromm dalam bukunya yang berjudul The Art of Loving menulis, “orang yang dicintai karena alasan pantas atau dianggap berhak menerima cinta selalu menimbulkan keraguan: mungkin saya tak dapat membahagiakan orang yang saya inginkan dapat mencintai saya atau mungkin selalu ada rasa cemas, jangan-jangan suatu waktu cinta akan lenyap. Selain itu, cinta yang didapat karena alasan pantas menerimanya selalu meninggalkan rasa getir dalam kesan bahwa orang dicintai bukan karena dirinya, melainkan karena kemampuannya membuat orang lain senang. Ini bukan cinta, melainkan manipulasi!”

Cinta seharusnya diberikan secara cuma-cuma. Ia tidak mengharapkan balasan dari orang lain atau memberikan syarat-syarat tertentu ketika mempraktikkannya. Cinta ini sering disebut manusia sebagai cinta sejati.

Cinta sejati sangatlah menyehatkan. Cinta ini tidak membuat orang yang menerimanya merasa tertekan, justru ia akan bahagia karena diperlakukan secara tulus. Jadi, jika Anda dan orang-orang di sekeliling Anda tetap sehat, pancarkanlah cinta sejati, cinta yang tanpa syarat.

Selasa, 12 Oktober 2010

Bible's Way For Success

RINDU MENYENANGKAN TUHAN? BERSIAPLAH UNTUK SUKSES, KARENA TUHAN SENANG BILA ANDA SUKSES

Tahukah Anda, Alkitab mengandung rahasia-rahasia sukses sejati? Baik sukses memperoleh hidup kekal di surga (Yohanes 3:16), maupun sukses memperoleh hidup berlimpah di dunia (Yohanes 10:10). Terinspirasi dari hidup Yesus – Sang Pemimpin Tersukses -- buku BIBLE’S WAY FOR SUCCESS menolong Anda menemukan petunjuk-petunjuk hidup sukses yang sederhana namun aplikatif dan efektif untuk mengatasi tantangan dunia di akhir zaman.

Buku ini pasti menolong umat TUHAN yang ingin bangkit dari kegagalan dan kemalangan menuju keberhasilan dan keberuntungan serta mempertahankan dan mewariskan sukses, memotivasi Anda yang ingin menyenangkan hati TUHAN melalui hidup Anda, membukakan mata rohani Anda yang ingin mengenalNya dari sudut pandang yang baru dan berbeda, maupun alat pelengkap Anda yang rindu menolong orang lain mengenal Yesus secara bermanfaat dan simpatik.

Inilah solusi terbaik bagi umat TUHAN untuk menang atas masa kesukaran di akhir zaman, kontribusi terbaik di tengah perjuangan Anda untuk hidup lebih berkualitas, dan persembahan terbaik bagi orang yang rindu semakin merasakan kepedulian dan kehadiran TUHAN di hidup kita. Ini saatnya mengalami janji TUHAN bagi kita karena bukan hanya mujizat itu nyata tetapi juga sukses itu nyata!

Jonathan Prawira – selama lebih dari sepuluh tahun melayani umat TUHAN di seluruh dunia melalui ribuan lagu-lagu rohani yang ditulisnya. Sejak tahun 2005-2009 terpilih meraih penghargaan sebagai penulis lagu rohani terbaik versi IGMA. Penulis buku inspirasi Hati Sebagai Hamba, Mujizat Itu Nyata, Never Give Up, dan Driven Purpose Worship ini aktif melayani sebagai pemuji dan inspirator rohani di berbagai gereja di seluruh Indonesia dan berbagai media. Visinya saat ini adalah menolong gereja membangun penyembah sejati yang sukses di akhir zaman, baik di komunitas Power Of Worship di Jakarta dan berbagai wilayah lainnya.

Senin, 11 Oktober 2010

Jesus' Disciples

Disciple: A follower of person or idea: somebody who believes in and follows the teachings of a leader, a philosophy, or a religion.

The verses below cause me to think Christians take the idea of being Jesus’ disciple way too lightly.

Mt:10:24-25: The disciple is not above his master, nor the servant above his lord. 5: It is enough for the disciple that he be as his master, and the servant as his lord. If they have called the master of the house Beelzebub, how much more shall they call them of his household?

Lk:6:40: The disciple is not above his master: but every one that is perfect shall be as his master.

(These two scriptures say that Jesus’ disciples should be modeling their lives after Him. And that they should be prepared to suffer persecution because they are His disciples.)

Lk:14:26-33: If any man come to me, and hate not his father, and mother, and wife, and children, and brethren, and sisters, yea, and his own life also, he cannot be my disciple. 27: And whosoever doth not bear his cross, and come after me, cannot be my disciple. 28: For which of you, intending to build a tower, sitteth not down first, and counteth the cost, whether he have sufficient to finish it? 29: Lest haply, after he hath laid the foundation, and is not able to finish it, all that behold it begin to mock him, 30: Saying, This man began to build, and was not able to finish. 31: Or what king, going to make war against another king, sitteth not down first, and consulteth whether he be able with ten thousand to meet him that cometh against him with twenty thousand? 32: Or else, while the other is yet a great way off, he sendeth an ambassage, and desireth conditions of peace. 33: So likewise, whosoever he be of you that forsaketh not all that he hath, he cannot be my disciple.

(This scriptures says that Jesus’ disciples are supposed to put Him first in their lives, even to the forsaking all other interests, if those interests conflict with their mission of being Christ’s disciple.)

Matt: 28:18-20: And Jesus came and spake unto them, saying, All power is given unto me in heaven and in earth. 19: Go ye therefore, and teach all nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Ghost: 20: Teaching them to observe all things whatsoever I have commanded you: and, lo, I am with you alway, even unto the end of the world.
Amen.

(This scripture says The Great Commission is to make disciples for Jesus of all nations. Is that what is taking place? Do we really comprehend the scope of this concept? Can you imagine a church--all churches living and talking and ministering as Jesus did? We would not marvel at what He said in Jn: 14:12-14, if we did.)

Jn: 14:12-14: Verily, verily, I say unto you, He that believeth on me, the works that I do shall he do also; and greater works than these shall he do; because I go unto my Father.13: And whatsoever ye shall ask in my name, that will I do, that the Father may be glorified in the Son. 14: If ye shall ask any thing in my name, I will do it. 15: If ye love me, keep my commandments.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Kasih = Ketaatan

Yohanes 14:21
“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”


“Jika kamu benar-benar mengasihi Ayah, kamu tidak hanya akan mengatakan “ya” saja; tapi kamu benar-benar akan melakukannya,” demikian ujar seorang ayah kepada anak perempuannya.

Ayah ini ingin melihat bukti kasih dari anaknya, bukan sekedar janji manis di mulut saja. Kata-kata tidaklah cukup, ketaatan harus disertai tindakan. Jika sang anak benar-benar melakukan yang diperintahkannya, bahkan tanpa diingatkan kembali, sang ayah tahu bahwa anaknya tersebut benar-benar ingin menyenangkan hatinya.

Yesus tahu benar hubungan antara kasih dan ketaatan ini. Yesus telah memberi tahu kita cara menyenangkan hatinya: “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku.”

Tidak ada yang dapat menggantikan ketaatan sejati terhadap kehendak Allah. Standar Allah sangat jelas, kasih sama dengan ketaatan.

Saul, sang raja pertama Israel tidak tahu artinya ketaatan ini. Itu sebabnya Nabi Samuel menegurnya dengan sangat keras: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (I Samuel 15:22). Ketaatan Anda lebih penting daripada persembahan yang Anda bisa berikan.

Jika Anda mengatakan bahwa Anda mengasihi Tuhan, tunjukkanlah hal tersebut dengan ketaatan Anda pada perintah-perintah Tuhan.

Jumat, 08 Oktober 2010

Cinta Tulus Seorang Anak Kecil

Suatu pagi yang sunyi, di suatu desa kecil di Korea, ada sebuah bangunan kayu mungil yang atapnya ditutupi oleh seng-seng. Itu adalah rumah yatim piatu di mana banyak anak tinggal akibat orang tua mereka meninggal dalam perang.

Tiba-tiba, kesunyian pagi itu dipecahkan oleh bunyi mortir yang jatuh di atas rumah yatim piatu itu. Atapnya hancur oleh ledakan, dan kepingan-kepingan seng mental ke seluruh ruangan sehingga membuat banyak anak yatim piatu terluka. Ada seorang gadis kecil yang terluka di bagian kaki oleh kepingan seng tersebut, dan kakinya hampir putus. Ia terbaring di atas puing-puing ketika ditemukan, P3K segera dilakukan dan seseorang dikirim dengan segera ke rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.

Ketika para dokter dan perawat tiba, mereka mulai memeriksa anak-anak yang terluka. Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan oleh gadis itu secepatnya adalah darah. Ia segera melihat arsip yatim piatu untuk mengetahui apakah ada orang yang memiliki golongan darah yang sama.

Perawat yang bisa berbicara bahasa Korea mulai memanggil nama-nama anak yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu. Kemudian beberapa menit kemudian, setelah terkumpul anak-anak yang memiliki golongan darah yang sama, dokter berbicara kepada kelompok anak-anak itu dan perawat menerjemahkan, “Apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk gadis kecil ini?" Anak-anak tersebut tampak ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara. Sekali lagi dokter itu memohon, "Tolong, apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya untuk teman kalian? Karena jika tidak ia akan meninggal!"

Akhirnya, ada seorang bocah laki-laki di belakang mengangkat tangannya dan perawat membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan proses transfusi darah.Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk membersihkannya, bocah itu mulai gelisah.

"Tenang saja," kata perawat itu, "Tidak akan sakit kok."

Lalu dokter mulai memasukan jarum, ia mulai menangis.

"Apakah sakit?" tanya dokter itu.

Tetapi bocah itu malah menangis lebih kencang. "Aku telah menyakiti bocah ini!" kata dokter itu dalam hati dan mencoba untuk meringankan sakit bocah itu dengan menenangkannya, tetapi tidak ada gunanya. Setelah beberapa lama, proses transfusi telah selesai dan dokter itu minta perawat untuk bertanya kepada bocah itu.

"Apakah sakit?"

Bocah itu menjawab, "Tidak, tidak sakit."

"Lalu kenapa kamu menangis?" tanya dokter itu.

"Karena aku sangat takut untuk meninggal" jawab bocah itu.

Dokter itu tercengang.

"Kenapa kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal?"

Dengan air mata di pipinya, bocah itu menjawab, "Karena aku kira untuk menyelamatkan gadis itu aku harus menyerahkan seluruh darahku…"

Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian ia bertanya, "Lalu jika kamu pikir kamu akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk memberikan darahmu?"Sambil terisak ia berkata, "Karena dia adalah temanku, dan aku mengasihinya...”

Anak ini tahu bahwa karena kasihnya ia harus berkorban, namun ia tetap rela mati demi menyelamatkan seorang temannya. Mari kita teladani kasih yang tulus seperti kisah anak kecil diatas. Wujudkan kepedulian kita pada sesama dalam tindakan nyata, sekalipun untuk itu menuntut pengorbanan dari hidup kita.