Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar - Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu - Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum engkau mengeluh tentang pacar, suami atau isterimu - Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.
Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat dipanggil Tuhan.
Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu mengaharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.
Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai - Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.
Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh - Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.
Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu - Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.
Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain - Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.
Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu - Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.
Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu Hidup adalah semata-mata untuk mengasihi, dikasihi dan saling berbagi kasih..
Kamis, 07 Oktober 2010
Rabu, 06 Oktober 2010
Pernahkah Kamu Merasa Bosan ?
Pada awalnya manusialah yang menciptakan kebiasaan. Namun lama kelamaan, kebiasaanlah yang menentukan tingkah laku manusia.
Ada seorang yang hidupnya amat miskin. Namun walaupun ia miskin ia tetap rajin membaca. Suatu hari secara tak sengaja ia membaca sebuah buku kuno. Buku itu mengatakan bahwa di sebuah pantai tertentu ada sebuah batu yang hidup, yang bisa mengubah benda apa saja menjadi emas.
Setelah mempelajari isi buku itu dan memahami seluk-beluk batu tersebut, iapun berangkat menuju pantai yang disebutkan dalam buku kuno itu.
Dikatakan dalam buku itu bahwa batu ajaib itu agak hangat bila dipegang, seperti halnya bila kita menyentuh makhluk hidup lainnya.
Setiap hari pemuda itu memungut batu, merasakan suhu batu tersebut lalu membuangnya ke laut dalam setelah tahu kalau batu dalam genggamannya itu dingin-dingin saja.
Satu batu, dua batu, tiga batu dipungutnya dan dilemparkannya kembali ke dalam laut.
Satu hari, dua hari, satu minggu, setahun ia berada di pantai itu.
Kini menggenggam dan membuang batu telah menjadi kebiasaannya.
Suatu hari secara tak sadar, batu yang dicari itu tergenggam dalam tangannya. Namun karena ia telah terbiasa membuang batu ke laut, maka batu ajaib itupun tak luput terbang ke laut dalam.
Lelaki miskin itu melanjutkan 'permainannya' memungut dan membuang batu. Ia kini lupa apa yang sedang dicarinya.
Teman, pernahkah kita merasakan kalau hidup ini hanyalah suatu rentetan perulangan yang membosankan? Dari kecil, kita sebenarnya sudah dapat merasakannya, kita harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah, lalu pada siangnya kita pulang, mungkin sambil melakukan aktifitas lainnya, seperti belajar, nonton TV, tidur, lalu pada malamnya makan malam, kemudian tidur, keesokkan harinya kita kembali bangun pagi untuk bersekolah, dan melakukan aktifitas seperti hari kemarin, hal itu berulang kali kita lakukan bertahun-tahun !! Hingga akhirnya tiba saatnya untuk kita bekerja, tak jauh beda dengan bersekolah, kita harus bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor, lalu pulang pada sore/malam harinya, kemudian kita tidur, keesokan harinya kita harus kembali bekerja lagi, dan melakukan aktifitas yang sama seperti kemarin, sampai kapan?
Pernahkah kita merasa bosan dengan aktifitas hidup kita?
Kalau ada di antara teman²ku ada yang merasakan demikian, dengarkanlah nasehatku ini :
"Bila hidup ini cuman suatu rentetan perulangan yang membosankan, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menemukan nilai baru di balik setiap peristiwa hidup."
Artinya, jangan melihat aktifitas yang kita lakukan ini sebagai suatu kebiasaan atau rutinitas , karena jika kita menganggap demikian, maka aktifitas kita akan amat sangat membosankan !!
Cobalah maknai setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, mungkin kamu akan menemukan suatu yang baru, sesuatu yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya, "Setiap hari merupakan hadiah baru yang menyimpan sejuta arti."
Ada seorang yang hidupnya amat miskin. Namun walaupun ia miskin ia tetap rajin membaca. Suatu hari secara tak sengaja ia membaca sebuah buku kuno. Buku itu mengatakan bahwa di sebuah pantai tertentu ada sebuah batu yang hidup, yang bisa mengubah benda apa saja menjadi emas.
Setelah mempelajari isi buku itu dan memahami seluk-beluk batu tersebut, iapun berangkat menuju pantai yang disebutkan dalam buku kuno itu.
Dikatakan dalam buku itu bahwa batu ajaib itu agak hangat bila dipegang, seperti halnya bila kita menyentuh makhluk hidup lainnya.
Setiap hari pemuda itu memungut batu, merasakan suhu batu tersebut lalu membuangnya ke laut dalam setelah tahu kalau batu dalam genggamannya itu dingin-dingin saja.
Satu batu, dua batu, tiga batu dipungutnya dan dilemparkannya kembali ke dalam laut.
Satu hari, dua hari, satu minggu, setahun ia berada di pantai itu.
Kini menggenggam dan membuang batu telah menjadi kebiasaannya.
Suatu hari secara tak sadar, batu yang dicari itu tergenggam dalam tangannya. Namun karena ia telah terbiasa membuang batu ke laut, maka batu ajaib itupun tak luput terbang ke laut dalam.
Lelaki miskin itu melanjutkan 'permainannya' memungut dan membuang batu. Ia kini lupa apa yang sedang dicarinya.
Teman, pernahkah kita merasakan kalau hidup ini hanyalah suatu rentetan perulangan yang membosankan? Dari kecil, kita sebenarnya sudah dapat merasakannya, kita harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah, lalu pada siangnya kita pulang, mungkin sambil melakukan aktifitas lainnya, seperti belajar, nonton TV, tidur, lalu pada malamnya makan malam, kemudian tidur, keesokkan harinya kita kembali bangun pagi untuk bersekolah, dan melakukan aktifitas seperti hari kemarin, hal itu berulang kali kita lakukan bertahun-tahun !! Hingga akhirnya tiba saatnya untuk kita bekerja, tak jauh beda dengan bersekolah, kita harus bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor, lalu pulang pada sore/malam harinya, kemudian kita tidur, keesokan harinya kita harus kembali bekerja lagi, dan melakukan aktifitas yang sama seperti kemarin, sampai kapan?
Pernahkah kita merasa bosan dengan aktifitas hidup kita?
Kalau ada di antara teman²ku ada yang merasakan demikian, dengarkanlah nasehatku ini :
"Bila hidup ini cuman suatu rentetan perulangan yang membosankan, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menemukan nilai baru di balik setiap peristiwa hidup."
Artinya, jangan melihat aktifitas yang kita lakukan ini sebagai suatu kebiasaan atau rutinitas , karena jika kita menganggap demikian, maka aktifitas kita akan amat sangat membosankan !!
Cobalah maknai setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, mungkin kamu akan menemukan suatu yang baru, sesuatu yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya, "Setiap hari merupakan hadiah baru yang menyimpan sejuta arti."
Ebit G Ade - Berita Dari Kawan
Perjalanan ini
Trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan
Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan
Tubuhku terguncang
Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap
kering rerumputan
Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi
Gembala kecil
Menangis sedih ...
Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika di kutanya mengapa
Bapak ibunya tlah lama mati
Ditelan bencana tanah ini
Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak
Kepada matahari
Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit
Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang
Trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan
Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan
Tubuhku terguncang
Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap
kering rerumputan
Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi
Gembala kecil
Menangis sedih ...
Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika di kutanya mengapa
Bapak ibunya tlah lama mati
Ditelan bencana tanah ini
Sesampainya di laut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak
Kepada matahari
Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit
Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang
Senin, 04 Oktober 2010
Lima Langkah Membangun Kehidupan Doa Yang Dasyat
Doa adalah nafas kehidupan orang percaya, namun tidak jarang banyak orang frustrasi untuk menjaga kehidupan doanya tetap konstan hingga menerima jawaban atas doa-doa yang mereka naikkan. Berikut ini adalah sebuah tips yang akan membawa kehidupan doa Anda masuk kedalam tingkatan yang baru.
1. Bertahan: Jangan berkecil hati. Terus naikkan pujian atas kebaikan Tuhan. (Yakobus 1:1-4)
Yakobus menyemangati kita untuk menganggap “sebagai suatu kebahagiaan” ketika kita menghadapi cobaan yang menguji iman kita. Hal ini mungkin terdengar sulit. Namun ketika kita bertahan saat menghadapi pencobaan itu, mengandalkan iman kita dan percaya bahwa Tuhan melihat hati kita, kita akan muncul menjadi pribadai yang “sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”
Seringkali Tuhan mengijinkan kita mengalami tantangan dan cobaan karena pengalaman tersebut membentuk kita agar siap menerima jawaban doa yang telah Tuhan sediakan. Bahkan ditengah rasa sakit kita, jika tetap berdoa, berpegang pada firman-Nya dan percaya pada janji-janji-Nya, maka kita akan melihat kebaikannya akan membawa kita ke sebuah tempat yang lebih baik lagi.
2. Berhenti kuatir : Mintalah hikmat dari Tuhan berkaitan dengan situasi Anda saat ini. (Yakobus 1:5)
Tuhan akan memberikan hikmat kepada setiap orang yang memintanya. Dia akan memberikan dengan murah hati. Bahkan Dia sangat senang ketika orang-orang yang dikasihinya dating kepada-Nya dan mengungkapkan masalahnya. Seringkali kita mencoba keluar dari masalah kita dengan kekuatan kita sendiri dan datang kepada Tuhan sebagai pilihan terakhir. Allah berkata kepada kita dalam Yeremia 33:3, “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.” Jika Anda datang kepada Tuhan dan bertanya kepada-Nya berkaitan dengan masalah yang sedang Anda hadapi, Tuhan berjanji akan menunjukkan cara-cara untuk menghadapinya.
3. Menghadapi Keraguan : Datang kepada Tuhan dengan iman – dan harapkanlah jawaban! (Yakobus 1:6-8)
Ketika Anda meminta bantuan Tuhan, ingatlah bahwa Dia setia. Ketika Yesus mengundang Petrus untuk berjalan dengan-Nya di atas air, Petrus dapat melakukannya - selama dia terus menatap pada Yesus dan tidak terfokus pada keadaan sekitarnya – ketika ia melihat gelombang di sekelilingnya dan air di bawahnya, ia tenggelam . Ketika Anda meminta Allah untuk menolong, fokus pada firman-Nya dan apa yang Dia sedang katakan didalam hati Anda. Jangan ijinkan situasi mengendalikan kehidupan Anda, namun buat iman Anda yang menentukan kehidupan Ada.
4. Ingatlah: Tuhan tidak dibatasi oleh keadaan Anda. (Yakobus 1:9-11)
Dengan standar dunia, orang-orang kaya memiliki peluang terbesar karena mereka memiliki sumber daya untuk mewujudkan impian mereka menjadi kenyataan. Mereka bias mendapatkan semua yang terbaik yang ditawarkan dunia, dan juga bisa mendapatkan kekuasaan serta pengaruh melalui kekayaan mereka. Sebaliknya, Tuhan tidak terkesan dengan kekayaan seseorang, melainkan dengan kesediaan kita untuk percaya kepadaNya dan ketaatan dalam apa yang telah dia firmankan. Jika kita kaya dalam iman, tidak ada batas untuk apa yang Tuhan dapat lakukan melalui kita!
5. Bertekun: Terus arahkan pandangan Anda pada Tuhan, dan bersyukur kepada-Nya untuk kemenangan yang Dia berikan! (Yakobus 1:12)
Melalui bertekun dalam doa di setiap saat, memuji Tuhan dan percaya kepada kebaikan-Nya, kita akan membangun karakter yang kita perlukan untuk siap menerima semua yang telah Tuhan persiapkan sehingga kita tidak akan kewalahan. Dan di setiap situasi kita akan muncul pemenang, hal ini adalah gambaran kecil dari kemenangan yang menanti semua orang percaya suatu hari nanti ketika kita menerima mahkota kehidupan yang Tuhan telah janjikan untuk mereka yang mengasihi Dia!
1. Bertahan: Jangan berkecil hati. Terus naikkan pujian atas kebaikan Tuhan. (Yakobus 1:1-4)
Yakobus menyemangati kita untuk menganggap “sebagai suatu kebahagiaan” ketika kita menghadapi cobaan yang menguji iman kita. Hal ini mungkin terdengar sulit. Namun ketika kita bertahan saat menghadapi pencobaan itu, mengandalkan iman kita dan percaya bahwa Tuhan melihat hati kita, kita akan muncul menjadi pribadai yang “sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”
Seringkali Tuhan mengijinkan kita mengalami tantangan dan cobaan karena pengalaman tersebut membentuk kita agar siap menerima jawaban doa yang telah Tuhan sediakan. Bahkan ditengah rasa sakit kita, jika tetap berdoa, berpegang pada firman-Nya dan percaya pada janji-janji-Nya, maka kita akan melihat kebaikannya akan membawa kita ke sebuah tempat yang lebih baik lagi.
2. Berhenti kuatir : Mintalah hikmat dari Tuhan berkaitan dengan situasi Anda saat ini. (Yakobus 1:5)
Tuhan akan memberikan hikmat kepada setiap orang yang memintanya. Dia akan memberikan dengan murah hati. Bahkan Dia sangat senang ketika orang-orang yang dikasihinya dating kepada-Nya dan mengungkapkan masalahnya. Seringkali kita mencoba keluar dari masalah kita dengan kekuatan kita sendiri dan datang kepada Tuhan sebagai pilihan terakhir. Allah berkata kepada kita dalam Yeremia 33:3, “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.” Jika Anda datang kepada Tuhan dan bertanya kepada-Nya berkaitan dengan masalah yang sedang Anda hadapi, Tuhan berjanji akan menunjukkan cara-cara untuk menghadapinya.
3. Menghadapi Keraguan : Datang kepada Tuhan dengan iman – dan harapkanlah jawaban! (Yakobus 1:6-8)
Ketika Anda meminta bantuan Tuhan, ingatlah bahwa Dia setia. Ketika Yesus mengundang Petrus untuk berjalan dengan-Nya di atas air, Petrus dapat melakukannya - selama dia terus menatap pada Yesus dan tidak terfokus pada keadaan sekitarnya – ketika ia melihat gelombang di sekelilingnya dan air di bawahnya, ia tenggelam . Ketika Anda meminta Allah untuk menolong, fokus pada firman-Nya dan apa yang Dia sedang katakan didalam hati Anda. Jangan ijinkan situasi mengendalikan kehidupan Anda, namun buat iman Anda yang menentukan kehidupan Ada.
4. Ingatlah: Tuhan tidak dibatasi oleh keadaan Anda. (Yakobus 1:9-11)
Dengan standar dunia, orang-orang kaya memiliki peluang terbesar karena mereka memiliki sumber daya untuk mewujudkan impian mereka menjadi kenyataan. Mereka bias mendapatkan semua yang terbaik yang ditawarkan dunia, dan juga bisa mendapatkan kekuasaan serta pengaruh melalui kekayaan mereka. Sebaliknya, Tuhan tidak terkesan dengan kekayaan seseorang, melainkan dengan kesediaan kita untuk percaya kepadaNya dan ketaatan dalam apa yang telah dia firmankan. Jika kita kaya dalam iman, tidak ada batas untuk apa yang Tuhan dapat lakukan melalui kita!
5. Bertekun: Terus arahkan pandangan Anda pada Tuhan, dan bersyukur kepada-Nya untuk kemenangan yang Dia berikan! (Yakobus 1:12)
Melalui bertekun dalam doa di setiap saat, memuji Tuhan dan percaya kepada kebaikan-Nya, kita akan membangun karakter yang kita perlukan untuk siap menerima semua yang telah Tuhan persiapkan sehingga kita tidak akan kewalahan. Dan di setiap situasi kita akan muncul pemenang, hal ini adalah gambaran kecil dari kemenangan yang menanti semua orang percaya suatu hari nanti ketika kita menerima mahkota kehidupan yang Tuhan telah janjikan untuk mereka yang mengasihi Dia!
Sabtu, 02 Oktober 2010
Donghaeng - Peter - Remake By Me
Jumat, 01 Oktober 2010
Menyelamatkan Muka
“Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.” (Kejadian 45:8).
Dapatkah Anda membayangkan melihat wajah saudara-saudara Yusuf ketika Yusuf mengatakan hal ini kepada mereka? Mungkin Ruben berkata kepada Yehuda, "Apakah kita tidak salah dengar? Apakah benar dia mengatakan bahwa kita tidak melakukan apa yang sebenarnya kita lakukan, tetapi Allah yang melakukannya?" Pernyataan Yusuf ini seperti telah mengambil beban rasa bersalah dalam hati saudara-saudaranya. Ini pasti adalah berita yang terlalu bagus untuk menjadi sebuah kenyataan. Yusuf tidak menyalahkan saudara-saudaranya untuk apa yang telah mereka lakukan. Pengampunan Yusuf ini telah menyelamatkan muka saudara-saudaranya.
Anda pun dapat melakukan hal yang sama seperti Yusuf, dengan membiarkan seseorang dapat menyelamatkan mukanya. Dalam budaya beberapa negara di Asia, hal yang terburuk adalah ketika seseorang kehilangan mukanya, bahkan beberapa orang lebih memilih untuk bunuh diri daripada kehilangan muka mereka. Tapi ketika diteliti lebih dalam lagi, kita semua mungkin akan melakukan hal yang sama ketika sebuah kejadian membuat kita kehilangan muka. Tentu kita tidak mengharapkan hal tersebut terjadi. Allah telah mengampuni dosa kita dan membiarkan kita menyelamatkan muka kita dari masa lalu yang bodoh kemudian membuatnya menjadi kebaikan untuk kita.
Kita pun harus bisa mengampuni, hal ini membuat orang lain bisa menyelamatkan muka mereka. Kita harus benar-benar mengampuni. Ada dua alasan mengapa kita mampu mengampuni seseorang , sebagai berikut :
1. Kita menyadari bahwa kita sendiri pun telah diampuni oleh Tuhan.
2. Kita menyadari bahwa kita mampu melakukannya.
Ketika kita marah karena kejahatan orang lain, ada kemungkinan kita akan membenarkan diri sendiri. Namun kita harus menyadari bahwa kita pun bisa melakukan dosa atau kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang lain. Kita telah diselamatkan hanya oleh kasih karunia Allah. Ketika kita membiarkan orang-orang menyelamatkan muka mereka dengan pemgampunan, kita sebenarnya melakukan apa yang benar dan adil, murah hati dan ramah.
Dapatkah Anda membayangkan melihat wajah saudara-saudara Yusuf ketika Yusuf mengatakan hal ini kepada mereka? Mungkin Ruben berkata kepada Yehuda, "Apakah kita tidak salah dengar? Apakah benar dia mengatakan bahwa kita tidak melakukan apa yang sebenarnya kita lakukan, tetapi Allah yang melakukannya?" Pernyataan Yusuf ini seperti telah mengambil beban rasa bersalah dalam hati saudara-saudaranya. Ini pasti adalah berita yang terlalu bagus untuk menjadi sebuah kenyataan. Yusuf tidak menyalahkan saudara-saudaranya untuk apa yang telah mereka lakukan. Pengampunan Yusuf ini telah menyelamatkan muka saudara-saudaranya.
Anda pun dapat melakukan hal yang sama seperti Yusuf, dengan membiarkan seseorang dapat menyelamatkan mukanya. Dalam budaya beberapa negara di Asia, hal yang terburuk adalah ketika seseorang kehilangan mukanya, bahkan beberapa orang lebih memilih untuk bunuh diri daripada kehilangan muka mereka. Tapi ketika diteliti lebih dalam lagi, kita semua mungkin akan melakukan hal yang sama ketika sebuah kejadian membuat kita kehilangan muka. Tentu kita tidak mengharapkan hal tersebut terjadi. Allah telah mengampuni dosa kita dan membiarkan kita menyelamatkan muka kita dari masa lalu yang bodoh kemudian membuatnya menjadi kebaikan untuk kita.
Kita pun harus bisa mengampuni, hal ini membuat orang lain bisa menyelamatkan muka mereka. Kita harus benar-benar mengampuni. Ada dua alasan mengapa kita mampu mengampuni seseorang , sebagai berikut :
1. Kita menyadari bahwa kita sendiri pun telah diampuni oleh Tuhan.
2. Kita menyadari bahwa kita mampu melakukannya.
Ketika kita marah karena kejahatan orang lain, ada kemungkinan kita akan membenarkan diri sendiri. Namun kita harus menyadari bahwa kita pun bisa melakukan dosa atau kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang lain. Kita telah diselamatkan hanya oleh kasih karunia Allah. Ketika kita membiarkan orang-orang menyelamatkan muka mereka dengan pemgampunan, kita sebenarnya melakukan apa yang benar dan adil, murah hati dan ramah.
Langganan:
Postingan (Atom)