Doa adalah nafas kehidupan orang percaya, namun tidak jarang banyak orang frustrasi untuk menjaga kehidupan doanya tetap konstan hingga menerima jawaban atas doa-doa yang mereka naikkan. Berikut ini adalah sebuah tips yang akan membawa kehidupan doa Anda masuk kedalam tingkatan yang baru.
1. Bertahan: Jangan berkecil hati. Terus naikkan pujian atas kebaikan Tuhan. (Yakobus 1:1-4)
Yakobus menyemangati kita untuk menganggap “sebagai suatu kebahagiaan” ketika kita menghadapi cobaan yang menguji iman kita. Hal ini mungkin terdengar sulit. Namun ketika kita bertahan saat menghadapi pencobaan itu, mengandalkan iman kita dan percaya bahwa Tuhan melihat hati kita, kita akan muncul menjadi pribadai yang “sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”
Seringkali Tuhan mengijinkan kita mengalami tantangan dan cobaan karena pengalaman tersebut membentuk kita agar siap menerima jawaban doa yang telah Tuhan sediakan. Bahkan ditengah rasa sakit kita, jika tetap berdoa, berpegang pada firman-Nya dan percaya pada janji-janji-Nya, maka kita akan melihat kebaikannya akan membawa kita ke sebuah tempat yang lebih baik lagi.
2. Berhenti kuatir : Mintalah hikmat dari Tuhan berkaitan dengan situasi Anda saat ini. (Yakobus 1:5)
Tuhan akan memberikan hikmat kepada setiap orang yang memintanya. Dia akan memberikan dengan murah hati. Bahkan Dia sangat senang ketika orang-orang yang dikasihinya dating kepada-Nya dan mengungkapkan masalahnya. Seringkali kita mencoba keluar dari masalah kita dengan kekuatan kita sendiri dan datang kepada Tuhan sebagai pilihan terakhir. Allah berkata kepada kita dalam Yeremia 33:3, “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.” Jika Anda datang kepada Tuhan dan bertanya kepada-Nya berkaitan dengan masalah yang sedang Anda hadapi, Tuhan berjanji akan menunjukkan cara-cara untuk menghadapinya.
3. Menghadapi Keraguan : Datang kepada Tuhan dengan iman – dan harapkanlah jawaban! (Yakobus 1:6-8)
Ketika Anda meminta bantuan Tuhan, ingatlah bahwa Dia setia. Ketika Yesus mengundang Petrus untuk berjalan dengan-Nya di atas air, Petrus dapat melakukannya - selama dia terus menatap pada Yesus dan tidak terfokus pada keadaan sekitarnya – ketika ia melihat gelombang di sekelilingnya dan air di bawahnya, ia tenggelam . Ketika Anda meminta Allah untuk menolong, fokus pada firman-Nya dan apa yang Dia sedang katakan didalam hati Anda. Jangan ijinkan situasi mengendalikan kehidupan Anda, namun buat iman Anda yang menentukan kehidupan Ada.
4. Ingatlah: Tuhan tidak dibatasi oleh keadaan Anda. (Yakobus 1:9-11)
Dengan standar dunia, orang-orang kaya memiliki peluang terbesar karena mereka memiliki sumber daya untuk mewujudkan impian mereka menjadi kenyataan. Mereka bias mendapatkan semua yang terbaik yang ditawarkan dunia, dan juga bisa mendapatkan kekuasaan serta pengaruh melalui kekayaan mereka. Sebaliknya, Tuhan tidak terkesan dengan kekayaan seseorang, melainkan dengan kesediaan kita untuk percaya kepadaNya dan ketaatan dalam apa yang telah dia firmankan. Jika kita kaya dalam iman, tidak ada batas untuk apa yang Tuhan dapat lakukan melalui kita!
5. Bertekun: Terus arahkan pandangan Anda pada Tuhan, dan bersyukur kepada-Nya untuk kemenangan yang Dia berikan! (Yakobus 1:12)
Melalui bertekun dalam doa di setiap saat, memuji Tuhan dan percaya kepada kebaikan-Nya, kita akan membangun karakter yang kita perlukan untuk siap menerima semua yang telah Tuhan persiapkan sehingga kita tidak akan kewalahan. Dan di setiap situasi kita akan muncul pemenang, hal ini adalah gambaran kecil dari kemenangan yang menanti semua orang percaya suatu hari nanti ketika kita menerima mahkota kehidupan yang Tuhan telah janjikan untuk mereka yang mengasihi Dia!
Senin, 04 Oktober 2010
Lima Langkah Membangun Kehidupan Doa Yang Dasyat
Sabtu, 02 Oktober 2010
Donghaeng - Peter - Remake By Me
Jumat, 01 Oktober 2010
Menyelamatkan Muka
“Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.” (Kejadian 45:8).
Dapatkah Anda membayangkan melihat wajah saudara-saudara Yusuf ketika Yusuf mengatakan hal ini kepada mereka? Mungkin Ruben berkata kepada Yehuda, "Apakah kita tidak salah dengar? Apakah benar dia mengatakan bahwa kita tidak melakukan apa yang sebenarnya kita lakukan, tetapi Allah yang melakukannya?" Pernyataan Yusuf ini seperti telah mengambil beban rasa bersalah dalam hati saudara-saudaranya. Ini pasti adalah berita yang terlalu bagus untuk menjadi sebuah kenyataan. Yusuf tidak menyalahkan saudara-saudaranya untuk apa yang telah mereka lakukan. Pengampunan Yusuf ini telah menyelamatkan muka saudara-saudaranya.
Anda pun dapat melakukan hal yang sama seperti Yusuf, dengan membiarkan seseorang dapat menyelamatkan mukanya. Dalam budaya beberapa negara di Asia, hal yang terburuk adalah ketika seseorang kehilangan mukanya, bahkan beberapa orang lebih memilih untuk bunuh diri daripada kehilangan muka mereka. Tapi ketika diteliti lebih dalam lagi, kita semua mungkin akan melakukan hal yang sama ketika sebuah kejadian membuat kita kehilangan muka. Tentu kita tidak mengharapkan hal tersebut terjadi. Allah telah mengampuni dosa kita dan membiarkan kita menyelamatkan muka kita dari masa lalu yang bodoh kemudian membuatnya menjadi kebaikan untuk kita.
Kita pun harus bisa mengampuni, hal ini membuat orang lain bisa menyelamatkan muka mereka. Kita harus benar-benar mengampuni. Ada dua alasan mengapa kita mampu mengampuni seseorang , sebagai berikut :
1. Kita menyadari bahwa kita sendiri pun telah diampuni oleh Tuhan.
2. Kita menyadari bahwa kita mampu melakukannya.
Ketika kita marah karena kejahatan orang lain, ada kemungkinan kita akan membenarkan diri sendiri. Namun kita harus menyadari bahwa kita pun bisa melakukan dosa atau kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang lain. Kita telah diselamatkan hanya oleh kasih karunia Allah. Ketika kita membiarkan orang-orang menyelamatkan muka mereka dengan pemgampunan, kita sebenarnya melakukan apa yang benar dan adil, murah hati dan ramah.
Dapatkah Anda membayangkan melihat wajah saudara-saudara Yusuf ketika Yusuf mengatakan hal ini kepada mereka? Mungkin Ruben berkata kepada Yehuda, "Apakah kita tidak salah dengar? Apakah benar dia mengatakan bahwa kita tidak melakukan apa yang sebenarnya kita lakukan, tetapi Allah yang melakukannya?" Pernyataan Yusuf ini seperti telah mengambil beban rasa bersalah dalam hati saudara-saudaranya. Ini pasti adalah berita yang terlalu bagus untuk menjadi sebuah kenyataan. Yusuf tidak menyalahkan saudara-saudaranya untuk apa yang telah mereka lakukan. Pengampunan Yusuf ini telah menyelamatkan muka saudara-saudaranya.
Anda pun dapat melakukan hal yang sama seperti Yusuf, dengan membiarkan seseorang dapat menyelamatkan mukanya. Dalam budaya beberapa negara di Asia, hal yang terburuk adalah ketika seseorang kehilangan mukanya, bahkan beberapa orang lebih memilih untuk bunuh diri daripada kehilangan muka mereka. Tapi ketika diteliti lebih dalam lagi, kita semua mungkin akan melakukan hal yang sama ketika sebuah kejadian membuat kita kehilangan muka. Tentu kita tidak mengharapkan hal tersebut terjadi. Allah telah mengampuni dosa kita dan membiarkan kita menyelamatkan muka kita dari masa lalu yang bodoh kemudian membuatnya menjadi kebaikan untuk kita.
Kita pun harus bisa mengampuni, hal ini membuat orang lain bisa menyelamatkan muka mereka. Kita harus benar-benar mengampuni. Ada dua alasan mengapa kita mampu mengampuni seseorang , sebagai berikut :
1. Kita menyadari bahwa kita sendiri pun telah diampuni oleh Tuhan.
2. Kita menyadari bahwa kita mampu melakukannya.
Ketika kita marah karena kejahatan orang lain, ada kemungkinan kita akan membenarkan diri sendiri. Namun kita harus menyadari bahwa kita pun bisa melakukan dosa atau kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang lain. Kita telah diselamatkan hanya oleh kasih karunia Allah. Ketika kita membiarkan orang-orang menyelamatkan muka mereka dengan pemgampunan, kita sebenarnya melakukan apa yang benar dan adil, murah hati dan ramah.
Rabu, 29 September 2010
Semut Hitam
Hari ini aku melihat seekor semut hitam kecil, tidak spesial memang, tapi yang ini menarik perhatianku. Aku sedang di kamar mandi, dan di lantai kamar mandi yang basah ini, semut hitam ini sedang berjuang agar ia tidak terseret air yang tergenang. Semut tidak dikaruniai tubuh untuk bisa berenang. Semut pasti mati bila terkena air.
Beda dengan semut-semut lain, ia terus berjuang seolah-olah menahan diri dari arus air. Beberapa kali ia terjebak dalam genangan air, namun ia terus menarik diri dan melawan air tersebut. Ia tidak menyerah. Aku pikir, "Ah, sebentar lagi dia pasti menyerah dan mati." Tapi di luar dugaanku, ia berhasil keluar dari genangan air itu. Ia menapaki lantai kamar mandi yang kering, namun akhirnya ia terseret lagi oleh air di sampingnya. "Wah, kali ini dia pasti menyerah," pikirku.
Namun nyatanya, ia masih terus berjuang. Luar biasa. Hmmm, kali ini aku akan menolongnya. Maka aku ulurkan jariku ke arahnya, dan ia langsung menapaki jariku itu. Lalu aku tempelkan jariku itu ke arah dinding, kali ini dia sudah bebas.
Yang aku pelajari dari kejadian ini, yaitu di saat kita dilanda masalah, kesulitan, bahkan sampai harus menghadapi pilihan hidup atau mati,maka pilihlah untuk terus berjuang. Berjuang dan terus berjuang, percaya deh, Tuhan pasti akan mengulurkan tangan-Nya untuk menolong kita keluar dari masalah itu. Tuhan melihat dan menghargai usaha kita, jangan berhenti berjuang. Amin.
Beda dengan semut-semut lain, ia terus berjuang seolah-olah menahan diri dari arus air. Beberapa kali ia terjebak dalam genangan air, namun ia terus menarik diri dan melawan air tersebut. Ia tidak menyerah. Aku pikir, "Ah, sebentar lagi dia pasti menyerah dan mati." Tapi di luar dugaanku, ia berhasil keluar dari genangan air itu. Ia menapaki lantai kamar mandi yang kering, namun akhirnya ia terseret lagi oleh air di sampingnya. "Wah, kali ini dia pasti menyerah," pikirku.
Namun nyatanya, ia masih terus berjuang. Luar biasa. Hmmm, kali ini aku akan menolongnya. Maka aku ulurkan jariku ke arahnya, dan ia langsung menapaki jariku itu. Lalu aku tempelkan jariku itu ke arah dinding, kali ini dia sudah bebas.
Yang aku pelajari dari kejadian ini, yaitu di saat kita dilanda masalah, kesulitan, bahkan sampai harus menghadapi pilihan hidup atau mati,maka pilihlah untuk terus berjuang. Berjuang dan terus berjuang, percaya deh, Tuhan pasti akan mengulurkan tangan-Nya untuk menolong kita keluar dari masalah itu. Tuhan melihat dan menghargai usaha kita, jangan berhenti berjuang. Amin.
Senin, 27 September 2010
A Genesis Bible Study - How to Forgive
Learn how to forgive from this Genesis Bible study
You never know how forgiving a person you really are until someone wrongs you. Can you relate? It seems that in my life something happens almost every week that begs for forgiveness. I thought I was making progress until I found myself repeating a story about someone who had wronged me years ago. I realized that I had not fully let it go.
Learning to how forgive is hard
The Bible teaches that God has totally forgiven us. He is willing to let the past be past. Believing this truth is the only way you will have the ability to forgive others and yourself. Learning to forgive is probably the most difficult lesson for a follower of Jesus to grasp.
Joseph and his brothers
The story of Joseph in Genesis 37-50 is a classic story about forgiveness. At age seventeen, Joseph's brothers sold him as a slave into Egypt. In Egypt Joseph was unfairly sent to prison for several years. But God protected Joseph and enabled him to interpret Pharaoh's dreams. Pharaoh was so impressed with Joseph that he made him Prime Minister of Egypt right on the spot.
Joseph learned how to forgive
After twenty-two years had passed, Joseph's brothers came to Egypt looking for grain. When the time was right, Joseph revealed himself to his brothers and forgave them. He held no grudges. He told them that what they intended for evil, God meant for good. In his excellent book Total Forgiveness, R. T. Kendall teaches us several lessons from the life of Joseph and his brothers:
Keep quiet about what they did
To ensure privacy, Joseph had everyone leave the room (Genesis 45:1). Why? No one in Egypt needed to know what happened. It isn't necessary to tell people who aren't a part of either the problem or the solution. People often tell negative things about others only to punish and get even with their offenders. When you've been wronged, you have to decide who to tell. Tell the people that can help with the problem or solution.
Put them at ease
Joseph could have made his brothers acknowledge his power. He could have reminded them of his dreams and their disbelief. But Joseph did not want them to be afraid of him (Genesis 45:3).
Let them save face
Saving face means preserving one's dignity. To ease their minds, Joseph gave an explanation for his suffering. It was to save lives that God sent me ahead of you. . .so then it was not you that sent me here, but God. (Genesis 45:5-8).
Continue the commitment to forgive year after year
After Jacob died Joseph reassured his brothers of his kindness (Genesis 50:19-21). The commitment to forgive is a choice that we will have to renew tomorrow, next week, next month and next year. Satan's favorite strategy is to get into our thought life and tempt us to be bitter. Love pursues a lifestyle of forgiveness.
You never know how forgiving a person you really are until someone wrongs you. Can you relate? It seems that in my life something happens almost every week that begs for forgiveness. I thought I was making progress until I found myself repeating a story about someone who had wronged me years ago. I realized that I had not fully let it go.
Learning to how forgive is hard
The Bible teaches that God has totally forgiven us. He is willing to let the past be past. Believing this truth is the only way you will have the ability to forgive others and yourself. Learning to forgive is probably the most difficult lesson for a follower of Jesus to grasp.
Joseph and his brothers
The story of Joseph in Genesis 37-50 is a classic story about forgiveness. At age seventeen, Joseph's brothers sold him as a slave into Egypt. In Egypt Joseph was unfairly sent to prison for several years. But God protected Joseph and enabled him to interpret Pharaoh's dreams. Pharaoh was so impressed with Joseph that he made him Prime Minister of Egypt right on the spot.
Joseph learned how to forgive
After twenty-two years had passed, Joseph's brothers came to Egypt looking for grain. When the time was right, Joseph revealed himself to his brothers and forgave them. He held no grudges. He told them that what they intended for evil, God meant for good. In his excellent book Total Forgiveness, R. T. Kendall teaches us several lessons from the life of Joseph and his brothers:
Keep quiet about what they did
To ensure privacy, Joseph had everyone leave the room (Genesis 45:1). Why? No one in Egypt needed to know what happened. It isn't necessary to tell people who aren't a part of either the problem or the solution. People often tell negative things about others only to punish and get even with their offenders. When you've been wronged, you have to decide who to tell. Tell the people that can help with the problem or solution.
Put them at ease
Joseph could have made his brothers acknowledge his power. He could have reminded them of his dreams and their disbelief. But Joseph did not want them to be afraid of him (Genesis 45:3).
Let them save face
Saving face means preserving one's dignity. To ease their minds, Joseph gave an explanation for his suffering. It was to save lives that God sent me ahead of you. . .so then it was not you that sent me here, but God. (Genesis 45:5-8).
Continue the commitment to forgive year after year
After Jacob died Joseph reassured his brothers of his kindness (Genesis 50:19-21). The commitment to forgive is a choice that we will have to renew tomorrow, next week, next month and next year. Satan's favorite strategy is to get into our thought life and tempt us to be bitter. Love pursues a lifestyle of forgiveness.
Menyeleksi ide dan peluang
Untuk dapat melesat dari posisi Anda saat ini menuju tangga kesuksesan, Anda harus menjadi orang yang kreatif – penuh dengan ide-ide dan cepat dalam memberikan solusi-solusi bagi permasalah yang ada.
Menyampaikan ide adalah suatu hal yang bagus, namun jangan sebatas ide saja. Anda dituntut untuk dapat menerapkan ide tersebuh hingga terealisasi menjadi sebuah solusi. Tidak peduli seradikal dan sekreatif apapun ide Anda, hal tersebut bukanlah sebuah peluang bagi keberhasilan jika tidak dapat diterapkan dan menjadi sebuah solusi permasalahan.
Jeffry Timmons menjelaskan peluang kesuksesan sebagai berikut, “Suatu peluang memiliki sifat-sifat menarik, tahan lama, dan tepat waktu serta terkait dengan produk atau jasa serta menciptakan atau memberi nilai tambah bagi pembeli atau pengguna akhir”.
Untuk itu Anda harus dapat memilah mana ide yang menghasilkan peluang dan mana yang sekedar ide dan tidak bisa diterapkan. Menyeleksi ide ini sebagai contoh dalam keuangan ada tolak ukur yang bisa digunakan seperti : Berapa banyak laba yang dihasilkan?
Dua hal persyaratan yang harus dipenuhi agar sebuah ide dapat disebut sebagai ide brilian adalah:
Mencerminkan visi dan tujuan organisasi
Memberi nilai tambah bagi pengguna akhir
Jika sebuah ide atau peluang memenuhi kedua syarat diatas, maka dalam prosesnya ide atau peluang tersebut bisa menjadi sebuah solusi brilian dan Anda bisa meminimalkan resiko. Namun jika Anda memukul rata semua ide atau peluang yang ada, maka hal tersebut sangatlah tidak bijaksana, karena dapat membuat Anda mengalami beberapa kerugian, diantaranya adalah:
Kehilangan kredibelitas Anda.
Kehilangan waktu dan uang.
Kehilangan dukungan.
Resiko kegagalan adalah bagian dari sebuah perjalanan menuju keberhasilan. Namun alangkah baiknya jika hal tersebut dapat diminimalkan. Selamat mewujudkan ide-ide dan peluang menuju kesuksesan Anda.
Menyampaikan ide adalah suatu hal yang bagus, namun jangan sebatas ide saja. Anda dituntut untuk dapat menerapkan ide tersebuh hingga terealisasi menjadi sebuah solusi. Tidak peduli seradikal dan sekreatif apapun ide Anda, hal tersebut bukanlah sebuah peluang bagi keberhasilan jika tidak dapat diterapkan dan menjadi sebuah solusi permasalahan.
Jeffry Timmons menjelaskan peluang kesuksesan sebagai berikut, “Suatu peluang memiliki sifat-sifat menarik, tahan lama, dan tepat waktu serta terkait dengan produk atau jasa serta menciptakan atau memberi nilai tambah bagi pembeli atau pengguna akhir”.
Untuk itu Anda harus dapat memilah mana ide yang menghasilkan peluang dan mana yang sekedar ide dan tidak bisa diterapkan. Menyeleksi ide ini sebagai contoh dalam keuangan ada tolak ukur yang bisa digunakan seperti : Berapa banyak laba yang dihasilkan?
Dua hal persyaratan yang harus dipenuhi agar sebuah ide dapat disebut sebagai ide brilian adalah:
Mencerminkan visi dan tujuan organisasi
Memberi nilai tambah bagi pengguna akhir
Jika sebuah ide atau peluang memenuhi kedua syarat diatas, maka dalam prosesnya ide atau peluang tersebut bisa menjadi sebuah solusi brilian dan Anda bisa meminimalkan resiko. Namun jika Anda memukul rata semua ide atau peluang yang ada, maka hal tersebut sangatlah tidak bijaksana, karena dapat membuat Anda mengalami beberapa kerugian, diantaranya adalah:
Kehilangan kredibelitas Anda.
Kehilangan waktu dan uang.
Kehilangan dukungan.
Resiko kegagalan adalah bagian dari sebuah perjalanan menuju keberhasilan. Namun alangkah baiknya jika hal tersebut dapat diminimalkan. Selamat mewujudkan ide-ide dan peluang menuju kesuksesan Anda.
Langganan:
Postingan (Atom)